Kamis, 24 November 2016



Sayyid Muhammad Husein T.

Sayyid Muhammd Husein Tabatabai. Seorang hafiz Quran cilik yang berasal dari kota Qom di Iran. Lelaki yang kini sudah berusia dewasa ini juga telah memperoleh gelar Doktor Honoris Causa di usianya yang ke tujuh tahun, selain itu dia juga sudah menjadi seorang mubaligh cilik yang selalu berbicara dan menjawab pertanyaan hadirin dengan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Pada Bulan February 1998, di Kerajaan Inggris tepatnya di Hijaz College Islamic University Husein yang yang waktu itu baru berusia 7 tahun menjalani ujian doktoral. Ujian yang harus dilaluinya terdiri dari 5 bidang :

    Menghafal Al-Quran dan menerjemahkan dalam bahasa ibu (persia)
    Menerangkan topik ayal Al-Quran
    Menafsirkan dan menerangkan ayat Al-Quran dengan ayat lainya dalam Al-Quran
    Bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran
    Menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan

Setelah menjalani ujian selama 210 menit, akhirnya tim penguji memberi nilai 93. Dimana nilai ini mengukuhkanya sebagai Doktor Honoris Causa.
Standard Penilaian :

    60 – 70 Sertifikat diploma
    70 – 80 Sarjana Kehormatan
    80 – 90 Magister Kehormatan
    90 ketas Doktoe Kehormatan (honoris cause)

Pada tanggal 19 Februari 1998 Husein menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran.
Buku ini juga disertai VCD yang isinya forum-forum baik di dalam negeri (Iran) maupun di luar negeri yang menceritakan bagaimana bocah cilik ini menunjukkan kehebatanya dalam menghafal dan memahami Al-Quran.
Buku ini juga bercerita tentang masa kecil Husein, dimana kedua orang tuanya juga seorang penghafal Al-Quran. Pada Usia 2 tahun 4 bulan Husein sudah menghafal juz 30 (Juz ‘Amma) secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al-Quran.
Berikut adalah beberapa dialog dalam buku itu yang menunjukkan kepiawaian bocah ini dalam memahami Al-Quran dan menggunakan ayat-ayat Al-Quran dalam percakapan sehari-hari, dialog ini dilakukan sepulang husein mendapat gelar Doktor dari Inggris :
Tanya (T) :        Bagaimana ujian yang kamu lalui di Inggris ?
Beberapa hari yang lalu saya jalan-jalan ke Gramedia dan menemukan Buku Best Seller yang yang berjudul Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Quran. Buku ini menceritakan seorang anak kecil yang baru berusia 7 tahun tetapi sudah hafal dan paham Al-Quran. Anak kecil ini bahkan bisa memahami Al-Quran walaupun bahasa ibunya bukan bahasa Arab, anak ini bernama Sayyid Mohammad Hussein Tabātabā’i. Pada Bulan February 1998, di Kerajaan Inggris tepatnya di Hijaz College Islamic University Husein yang yang waktu itu baru berusia 7 tahun menjalani ujian doktoral. Ujian yang harus dilaluinya terdiri dari 5 bidang :

    Menghafal Al-Quran dan menerjemahkan dalam bahasa ibu (persia)
    Menerangkan topik ayal Al-Quran
    Menafsirkan dan menerangkan ayat Al-Quran dengan ayat lainya dalam Al-Quran
    Bercakap-cakap dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran
    Menerangkan makna Al-Quran dengan metode isyarat tangan

Setelah menjalani ujian selama 210 menit, akhirnya tim penguji memberi nilai 93. Dimana nilai ini mengukuhkanya sebagai Doktor Honoris Causa.
Standard Penilaian :

    60 – 70 Sertifikat diploma
    70 – 80 Sarjana Kehormatan
    80 – 90 Magister Kehormatan
    90 ketas Doktoe Kehormatan (honoris cause)

Pada tanggal 19 Februari 1998 Husein menerima ijazah Doktor Honoris Causa dalam bidang Science of The Retention of The Holy Quran.
Buku ini juga disertai VCD yang isinya forum-forum baik di dalam negeri (Iran) maupun di luar negeri yang menceritakan bagaimana bocah cilik ini menunjukkan kehebatanya dalam menghafal dan memahami Al-Quran.
Buku ini juga bercerita tentang masa kecil Husein, dimana kedua orang tuanya juga seorang penghafal Al-Quran. Pada Usia 2 tahun 4 bulan Husein sudah menghafal juz 30 (Juz ‘Amma) secara otodidak, hasil dari rutinitasnya dalam mengikuti ibunya yang menjadi penghafal dan pengajar Al-Quran.





Khalid abu musa

KHALID Abu Musa, seorang anak dari Gaza, Palestina berusia sepuluh tahun, mampu menghafal 30 Juz Al-Quran. Anak Gaza yang hafal 30 juz Quran mungkin bukan sesuatu yang aneh lagi, namun Khalid sangat dinyatakan istimewa karena ia merupakan—maaf—anak austis, atau anak berkebutuhan khusus.

Khalid, tak pelak menjadi acuan di seluruh dunia, bahwa anak dengan autisme nyata bisa menghafal seluruh Qur’an. Ia memberikan contoh bagi orang-orang yang menderita autisme di seluruh dunia.

Cara Khalid menghafal seluruh Al Qur’an yaitu dengan mendengarkan ayat-ayat yang dibaca berulang-ulang kepadanya.

Sekarang, pihak Gaza sendiri, melalui perwakilannya Nedve Abdulal yang juga merupakan seorang ahli pendidikan dari sebuah sekolah swasta di kota yang dikepung oleh Israel itu, menyatakan bahwa semua anak dengan autisme menjalani rehabilitasi.

Selain mampu menghafal Al-Qur’an, Khalid juga belajar membaca dan menulis, dan ini merupakan sebuah terobosan untuk seorang anak autis.

Dia juga mampu berkomunikasi dengan anak-anak lain dan bermain game kadang-kadang.





 Muadz

Syeikh Fahd Al Kanderi mewancarai anak istimewa ini yang bernama Muadz. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Quran dari Mesir yang usianya 11 tahun.

Dalam wawancara itu beliau Fahd Al Kanderi menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Quran dan kebutaannya.

Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.


“Saya yang datang ke tempat syaikh,” katanya.

“Berapa kali dalam sepekan?” Tanya beliau.

“Tiga hari dalam sepekan,” jawabnya.

Jawaban anak ini kian membuat terkejut ketika anak ini memberitahu beliau SYaikh Fahd Al Kenderi bahwa Syaikh yang mengajarinya Al-Quran hanya mengajarinya satu ayat per hari.

“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari,” ujarnya.

“Satu ayat saja?” respon beliau terkejut, takjub dengan semangat baja anak ini.
Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Quran, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Yang lebih mengagumkan adalah pernyataannya tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatannya, namun rahmat Allah lah yang ia harapkan.

“Dalam shalatku, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku,” katanya.
Mendengar jawaban anak ini Syaikh Fahd Al Kanderi semakin terkejut.

“Engkau tidak ingin Allah mengembalikan penglihatanmu? Kenapa?” tanya beliau heran.
Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan ia tak yakin pada Allah, bukan. Namun ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada HARI PEMBALASAN (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan, apa yang telah engkau lakukan dengan penglihatanmu? Saya tidak malu dengan cacat yang saya alami. Saya hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untuk saya pada hari kiamat kelak,” papar Muadz dengan tegas.
Mendengar kalimat mulia anak ini, semua diam. Syaikh nampak berkaca-kaca dan air matanya menetes. Para pemirsa di stasiun TV serta kru TV tersebut juga tak tahan menitikkan air mata.

Pada saat ini, saya teringat banyak kaum muslimin yang mampu melihat namun bermalas-malasan dalam menghafal kitab Allah, Al-Quran. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok (di hadapan-Mu)?” kata Syaikh Fahd AL Kanderi.

“Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan,” kata Muadz penghafal Quran muda ini.
Subhanallah, indahnya dunia tak membuatnya lupa akan Rabbnya dan hari pembalasan.

Ia juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah (rahimahullah). “Kaidah imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah yang berbunyi ‘Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya,’” katanya.

Kehilangan penglihatan sejak kecil, tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tak iri pada orang lain apalagi kufur nikmat. Ikhlash menerima takdirNya.

“Alhamdulillah, saya tidak iri kepada kawan-kawan meski sejak kecil saya sudah tidak bisa melihat. Ini semua adalah qadha’ dan qadar Allah,” katanya.
“Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kita sebagai penghuni surga Al-Firdaus yang tertinggi,” kata MUADZ

Matanya yang buta, tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.

Dalam sebuah hadits Qudsi Nabi (shallallahu ‘alaihi wa salam) bersabda:

إِنَّ اللَّهَ قَالَ: إِذَا ابْتَلَيْتُ عَبْدِي بِحَبِيبَتَيْهِ فَصَبَرَ، عَوَّضْتُهُ مِنْهُمَا الجَنَّةَ

Allah berfirman, “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga.” (HR. Bukhari no. 5653, Tirmidzi no. 2932, Ahmad no. 7597, Ad-Darimi no. 2795 dan Ibnu Hibban no. 2932)