Kamis, 24 November 2016



La Ode Musa

Jakarta, bimasislam—Kabar gembira datang dari arena Musabaqah Hifzhil Quran (MHQ) International di Sharm El-Sheikh, Mesir yang dihelat sejak 10-14 April 2016. Adalah La Ode Musa (7), peserta termuda dan postur terkecil berhasil menjadi yang terbaik ketiga diajang lomba hafizh anak tingkat Dunia.

 Musa berhasil melewati berbagai soal yang diujikan, bahkan membuat takjub para dewan hakim. MHQ Internasional Sharm El-Sheikh kali inidiikuti oleh 80 orang yang terdiri dari 60 negara. Selain Indonesia dan tuan rumah Mesir, ada Sudan, Arab Saudi, Kuwait, Maroko, Chad, Aljazair, Mauritania, Yaman, Bahrain, Nigeria, Malaysia, Brunei Darussalam, Filipina, Thailand, Australia, Ukraina, dan negara-negara lainnya, demikian seperti dilansir sejumlah media online. 

Musa bukanlah yang pertama membawa harum nama Indonesia, tapi musa menjadi istimewa karena usianya yang masih belia. Andai musa ikut kejuaraan itu beberapa tahun kemudian, bukan tidak mungkin dirinya akan menjadi yang terbaik. Musa kecil masih memiliki kendala untuk melafalkan huruf “R” tapi jangan tanya soal hafalan al-Qur’an, dia berhasil membuat pemerintah Mesir takjub.

Selain diganjar juara 3, Musa mendapat undangan kehormatan dari pemerintah Mesir pada peringatan Malam Lailatul Qadar yang diadakan pada Ramadan mendatang. Disebutkan bahwa Presiden Mesir akan memberikan penghargaan secara langsung kepada Musa. Pemerintah Mesir akan menanggung biaya tiket dan akomodasi selama mereka berada di Mesir. Menteri Gomaa menyampaikan takjubnya kepada Musa yang berusia paling kecil dan tidak bisa berbahasa Arab, tapi menghapal Al-Qur’an dengan sempurna, jelas Koordinator Fungsi Pensosbud KBRI Kairo, Lauti Nia Astri Sutedja dalam rilisnya kepada media.



Siapa La Ode Musa?
 La Ode Musa, biasa disapa Abang Musa. Adalah putra dari pasangan Laode Abu Hanifa (34) dan Yulianti (29). Kepada bimasislam Yulianti mengaku sangat gembira mendengar kabar tentang anaknya yang telah berhasil menjadi juara di Mesir. “Sangat senang, saya menangis mendengarnya, alhamdulillah”, ujar Yulianti.

Lahir di Bangka Barat pada 26 Juli 2008, musa adalah anak pertama dari empat bersaudara. Adiknya Lukman (5) Hindun (3) dan Zainal (1). Seperti layaknya anak kecil, musa pun mengalami kesulitan saat pertama bejalar al Qur’an.
 “Awalnya ya susah belajar Al-Qur’an, tapi karena Abinya (bapak-red) istiqomah dan sabar dalam mendidik ilmu agama alhamdulillah hasilnya bagus”, ungka Yulianti yang berniat menjadikan semua anaknya hafal Al-Qur’an.
 Meski sudah jadi juara Yulianti berharap anaknya akan lebih giat belajar. “Harus lebih giat belajar, jangan sampe malah tidak belajar”, harapnya.
 Yulianti juga menuturkan kalau anaknya biasa saja, cuma dia menerapkan disiplin yang tinggi. “Seminggu ada waktu satu hari untuk bermain, selebihnya ya belajar, untuk yang umum-umum belajar sama saya”, aku Yulianti.
 Diakhir pembicaraan dengan bimasislam Yulianti berpesan agar para orang tua terus mendidik anaknya dengan penuh semangat. “kepada para orang tua jangan patah semangat untuk terus mendidik ilmu agama kepada anaknya”, pungkasnya.



Musa Laode Abu Hanafi, Hafidz cilik asal Indonesia ini berhasil mengharumkan nama Indonesia di pentas ‘Musabaqah Hifzil Quran (MHQ) Internasional’ di Sharm El-Sheikh Mesir pada 10-14 April 2016 lalu.

Musa merupakan Hafidz cilik asal Bangka, yang berhasil melenggang ke final MTQ Internasional di Mesir 2016. Pada babak final, Musa berhasil menjadi juara ketiga.





Semua program menghafal untuk Musa dilakukan mandiri oleh Musa di rumahnya. Ada beberapa hal yang selama ini mereka jaga sehingga mampu mengantarkan Musa menjadi juara tiga dalam MHQ International
1. Murajaah (mengulang-ulang) hafalan
Kunci paling penting yaitu Murajaahnya (alias mengulang-ulang hafalan). Perlu diketahui juga Abu Musa tidak hafal semua itu, namun bisa menjadikan Musa hafal dengan kuat.
2.Pergaulan
Pergaulan harus dijaga. Bisa dikatakan Musa kurang bergaul dengan banyak anak, karena memang niat ayahnya benar-benar menjaga hafalan.
3. Tontonan TV
Musa sangat dijaga oleh kedua orang tuanya jangan sampai nonton televisi secara berlebihan.
4. Makanan
Makanan yang dikonsumsi oleh Musa benar-benar dijaga. Asupan sari kurma, madu dan propolis selalu diberikan kepada Musa bersama adik-adiknya.
5.Rutinitas Harian
Setiap pagi setengah jam sebelum Subuh, Musa dibiasakan salat tahajud menjadi imam untuk adik-adiknya. Kemudian Subuh berjamaah di Masjid. Setelah Subuh Murajaah hafalan sampai pukul 9 pagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar